Bangladesh - dawn of Islamism | DW Documentary

August 07, 2019

Di suatu masa, dimana intoleransi, fundamentalisme agama dan xenofobia semakin tumbuh di seluruh dunia, kami ingin mencari tahu lebih tentang apa yang sedang terjadi di negara yang berpopulasi tinggi ini, yang mayoritasnya beragama Islam. Terkait dengan Bangladesh, liputan berita di dunia barat cenderung berfokus terhadap laporan-laporan tentang banjir, kurangnya perkembangan dan kemiskinan. Kondisi bekerja yang sangat buruk di dalam industri tekstil negara ini juga menjadi berita utama. Sebuah industri yang memasok seluruh dunia dengan baju-baju murah. Di beberapa tahun terakhir, gelombang terorisme Islamis juga telah melanda negara ini. Banyak dari korbannya adalah para bloger dan penulis liberal atau sekular. Eksodus massal dari pengungsi Rohingnya ke Bangladesh sekarang membuat negara ini berkonfrontasi dengan sebuah tantangan lain yang menakutkan. Kami bertanya-tanya, masa depan seperti apa yang menanti Bangladesh. Dhaka Di sebuah universitas di ibukota Dhaka, kami bertemu mahasiswa ilmu komputer yang merupakan bagian dari generasi muda yang mengarah ke barat. Ada banyak yang menyembunyikan identitasnya dan hidup disini dengan damai dan harmonis. Ini adalah jalan teraman untuk bertahan hidup disini. Kalau tidak begitu, menurut saya, tidak bijak untuk tinggal disini. Aisha tidak mau memberitahu nama aslinya. Kami berkenalan dengannya melalui kontak lain di lingkungan blogger lokal. Ia hanya mau bertemu dengan kami jika ia bisa menutupi wajahnya. Jika seseorang melihat saya disini, mereka akan langsung melapor ke orang tua saya, seperti: Lihat, ini putri kalian. Kalian harus menjaganya. Ini sangat mencekik. Saya merasa seperti... Anda tahu... jika seseorang memelihara seekor burung, mereka tidak membiarkannya terbang. Mereka hanya mengurungnya di sangkar dan merawat burung itu dengan baik. Bagi Aisha, kampus universitas adalah sebuah tempat untuk berlindung dan kebebasan. Di usia 25 tahun, ia tinggal dengan orang tua dan keluarga besarnya, yang menuntut ia berada di rumah jika sudah gelap. Mereka ingin agar Aisha segera menikah, sebagai perawan. Orang tuanya yang kaya bersikeras agar suaminya adalah Muslim. Bagi Aisha, itu tidaklah penting. Saya tidak peduli apakah ia orang Muslim, Hindu atau Kristen atau apapun, ia bisa jadi apa saja, itu haknya, itu pilihannya. Saya seorang pemikir bebas. Pemikir bebas artinya bahwa semua orang bebas, bebas pergi, bebas untuk berpikir apapun. Ia tidak berani untuk berbicara seperti itu di rumah. Aisha adalah seorang atheis dan hanya berbicara tentang agama dengan teman-teman blogernya. Mereka chatting online, secara anonim. Aisha tahu bahaya yang ia hadapi. Di beberapa tahun terakhir, puluhan pemikir bebas, aktivis sekuler, anggota agama minoritas dan orang-orang luar  telah dibunuh oleh para Islamis radikal. Saya kira Bangladesh bergerak menuju agama. Ini datang dari pendidikan, seperti sistem pendidikan kami. Kami diajarkan agama dari usia dini, untuk mengajarkan Al-Qur'an ke mereka. Jadi ini seperti cuci otak. Dan ini seperti virus, Anda tahu? Ini... terus menyebar. Tetapi kamu tidak punya vaksin atau obatnya. Jadi satu-satunya obat menurut saya adalah pendidikan. Pendidikan yang benar, pendidikan yang pantas. Para mahasiswi Universitas Dhaka sedang berpesta. Semesternya sudah selesai. Hanya beberapa meter dari sini adalah tempat dimana bloger Avijit Roy terbunuh. Seorang atheis yang terbuka, Roy sedang mengunjungi Pameran Buku Dhaka bulan Februari 2015. Ketika berjalan pulang dengan istrinya, ia dibunuh oleh orang Islam radikal menggunakan parang. Ayah Roy amat sedih. Ajoy Roy adalah seorang pensiunan profesor fisika dan seorang aktivis hak asasi manusia. Sewaktu muda, ia berjuang dalam perang kemerdekaan Bangladesh. Ajoy Roy tidak mau anaknya, yang dulu tinggal di Amerika Serikat, mengunjungi Dhaka. Ia memperingatkan Avijit, bahwa bukunya dan kegiatan bloggernya bisa membuatnya dibunuh oleh kelompok ekstrimis. Tetapi terlepas dari nasehat saya, ia tetap datang dengan istrinya. Dan ia mempunyai sebuah ide yang sangat samar. Kenapa para fundamentalis mau membunuh saya? Kenapa para fundamentalis ingin membunuh saya? Saya seorang penulis... Pemikiran yang begitu polos. Dan ia membayar harganya. Kadang air mata saya menetes. Bagaimanapun saya seorang ayah. Dan kapanpun saya melihat fotonya, kenapa Avijit, kenapa kamu datang kesini? Avijit Roy adalah salah satu dari lima bloger sekuler yang dibunuh di tahun 2015. Tidak ada satupun dari pelakunya yang dihukum. Ketika Avijit Roy diserang, polisi ada di sekitarnya, tetapi mereka tidak melakukan apapun. Ayah Roy berkata, polisi dan dinas rahasia gagal melindungi anaknya. Tetapi kesalahan terbesar berada di tangan pemerintah. Bangladesh secara politis masih salah diurus oleh para pemimpin. Kami telah mengembangkan budaya tidak menghukum. Jika ini berlanjut, Bangladesh akan menjadi sebuah negara yang sangat anarkis. Saya tidak bisa bilang secara langsung. Saya bilang, mereka antara tidak mampu, tidak efisien atau alternatifnya adalah, bahwa mereka tidak punya niatnya. Apalagi yang bisa dikatakan? Kami terjun ke kebisingan dan kerumunan, yang membentuk kota Dhaka. Wilayah metropolitan ini adalah rumah bagi setidaknya 18 juta penduduk. Kesibukan dan energi negara yang relatif muda ini, bisa dirasakan disini, seperti juga pentingnya agama Islam. Bangladesh bukanlah sebuah republik Islam seperti Pakistan. Menurut undang-undang dasarnya, bentuk pemerintahan resminya adalah sekuler. Tapi kelompok Islamis semakin menuntut pemerintahan yang berdasarkan hukum Islam. Posisi apakah yang dipegang pemerintah terkait semakin bangkitnya Islamisme? Dan bagaimana sikap mereka terhadap kekerasan yang diarahkan kepada para blogger? Hossain Toufique Imam adalah penasehat bagi sang perdana menteri. Ini lebih dari sebuah negara Muslim, jauh lebih dari itu. Dan beberapa dari mereka sangat percaya takhayul atau sangat taat. Jadi jika kamu memutarbalikkan Al-Qur'an, yang merupakan kitab suci dan komentar atas hidup Nabi Muhammad, sejumlah orang marah. Mereka kehilangan keseimbangannya. Inilah kenapa ini adalah ulah para blogger sendiri. Imam adalah salah satu penasehat politik terdekat Perdana Menteri Sheikh Hasina. Tetapi ia, dan pemerintah juga sependapat, menimbulkan pemikiran bahwa para blogger juga bersalah. Sang imam tidak melakukan banyak untuk melawan pandangan itu. Kami mempraktekkan sekularisme. Dan musuh sekularisme adalah orang-orang itu, para blogger dan mereka yang membunuhnya. Mereka adalah kaum ekstrim. Kami harus menarik mereka ke aliran utama, inilah tujuan utama kami. Imam sudah terlibat dalam politik sejak Bangladesh didirikan. Ia percaya pemeritahnya harus mengulurkan tangannya kepada para Islamis untuk mempertahankan kohesi sosial. Contohnya dengan mengakui gelar yang diperoleh lulusan institusi-institusi madrasah swasta. Kami telah memberikan pengakuan kepada sistem pendidikan tertinggi agar mereka juga dapat bersaing dengan yang lainnya yang telah menuntaskan pendidikan umum. Ketika mereka keluar dari tempurungnya, mereka melihat bahwa dunia terbuka dengan sangat luas bagi mereka. Ini adalah kesempatan bagi mereka. Kami mengunjungi sekolah swasta untuk mempelajari Al-Qur'an milik Masjid Lalbagh di Dhaka. Pemerintah tidak punya pengaruh apapun terkait yang diajarkan kepada muridnya disini. Kami segera menyadari, bahwa banyak orang di masyarakat yang tertutup ini melihat dirinya sendiri sebagai korban propaganda anti Islam. Islam adalah agama liberal dan moderat. Orang-orang Yahudi dan Kristen juga menjadi pelakunya. Orang-orang Hindu dan Buddha juga melakukan kejahatan. Tetapi hanya jika pelakunya orang Muslim lah, agamanya disalahkan untuk kejahatan yang dilakukan. Mufti Faizullah mengajar tentang hukum syariah Islam dan merupakan salah satu tokoh Islamis utama di negaranya. Dalam wawancara dengan kami, ia mempresentasikan dirinya sebagai moderat. Tetapi ia juga mempunyai wajah lainnya, seperti ketika ia menyerukan eksekusi seorang menteri yang berani mengkritik perjalanan haji ke Mekah yang tiap tahunnya dilakukan oleh kaum Muslim. Tuntutan kami jelas. Kami berterima kasih kepada Anda, Perdana Menteri Sheikh Hasina, bahwa Anda mengeluarkan Latif Siddiqui dari kabinet Anda. Tetapi ini tidak cukup. Kami menuntut lebih. Latif Siddique adalah seorang atheis. Dan hukumannya harus hukuman mati. Kami bertanya kepadanya apakan ini bukan sebuah umpan untuk melakukan kekerasan, Mufti Faizullah membantah tuduhannya. Di Islam, yang paling kami sayangi adalah Allah dan Nabi Muhammad. Jika kamu menghina atau menyiksa mereka, hati kami berdarah. Jadi, apa yang kamu lakukan jika kamu terluka? Apakah kamu mengambil senjata? Tidak! Islam tidak mengizinkan itu. Tetapi kalau menyangkut mereka yang menyakitimu dan membuat hatimu berdarah, setidaknya kamu bisa meminta agar mereka dihukum. Kata-kata sang mufti bisa memobilisasi kerumunan yang besar di Bangladesh dalam waktu beberapa jam saja. Ia dengan santai menghilangkan pemisah antara agama dan pemerintah yang diatur oleh undang-undang dasar. Sekularisme, katanya, tidak memainkan peranan apapun dalam lahirnya Bangladesh. Sekularisme bukan sebuah isu dulunya. Di masa pemberontakan massal tahun 1969, gerakan kemerdekaan, lalu Perang Pembebasan tahun 1971, sekularisme tidak pernah disebut-sebut. Ini adalah tambahan sehabis itu. Musium ini dipersembahkan bagi perang pembebasan, yang memberikan penghormatan kepada pemisahan penuh kekerasan negara ini dari Pakistan. Kami bertemu dengan Sara Hossain disini, salah satu pengacara yang paling terkenal di negara ini. Ketika ia kecil, ayahnya memainkan peranan penting dalam penyusunan konstitusi Bangladesh. Hal yang bagus untuk melihat contoh ini karena tulang punggungnya patah. Dan ini sayangnya sebuah metafora yang sangat tepat untuk apa yang benar-benar terjadi dengan konstitusi dan praktik-praktik konstitusional di Bangladesh saat ini. Mungkin saya membesar-besarkan. Ini tidak patah, ini hanya rusak parah. Mungkin ini lebih tepat. Saya pikir, kami tidaklah rusak, kami tidak lumpuh total. Bangladesh masih bergerak dan bergerak maju, tetapi dengan banyak rintangan dan komplikasi internal. Di musium, kami dihadapkan dengan sejarah brutal pendirian negara ini sebagai negara independen. Sebuah sejarah yang masih menggema sampai sekarang. Jalan panjang menuju kemerdekaan dimulai di tahun 1947, dengan berakhirnya masa penjajahan Inggris. Bagian dari benua ini dibagi, menciptakan Pakistan, yang sendirinya terbelah menjadi bagian timur dan barat. Banyak orang di timur Pakistan tersakiti oleh apa yang dilihat sebagai dominasi Pakistan Barat dan menuntut negara sendiri. Bulan Maret 1971, perang kemerdekaan dimulai. Militer melakukan pembunuhan massal warga sipil di bagian timur. Penduduk setempat yang ingin tetap menjadi bagian dari Pakistan juga turut serta. Pemerintah Bangladesh mengatakan, bahwa sampai tiga juta warga tewas. Intervensi India menyebabkan didirikannya sebuah negara baru dari Pakistan timur: Bangladesh. Jutaan orang dipindahkan dari kampung halamannya. Para pemimpin negara baru ini menginginkan sebuah Bangladesh yang sekular, bahkan sosialis. Mereka mengabadikan prinsip-prinsip sekularisme ke dalam pembukaan konstitusi. Bertahun-tahun setelahnya, di tahun 1988, pemimpin negara ini menyatakan Islam sebagai agama resmi negaranya, dengan berbagai konsekuensi yang jauh. Kami tidak lagi menganut sekularisme, kami tidak percaya bahwa semua orang mempunyai hak untuk hidup, atas kebebasan dan kebebasan berbicara, terlepas dari kepercayaan atau latar belakang agamanya. Saya pikir, apa yang kita lihat adalah kemauan untuk mentolerir orang-orang yang tidak toleran, serta memerangkulnya juga. Menegaskan intoleransi sebagai jalan hidup. Dan mengatakan, bahwa selama pandangan saya dihormati, saya baik-baik saja, tetapi saya tidak menghormati pandangan orang-orang lain. Pagi hari berikutnya, Sara Hossain mengajak kami ke Mahkamah Agung Bangladesh. Ia ingin menunjukkan kami kekuatan yang telah dikumpulkan oleh pada Islamis garis keras terkait hal-hal politis. Patung Justitia, dewi keadilan Romawi kuno, dulunya berdiri di depan bangunan Mahkamah Agung. Tetapi orang Islam garis keras mengeluhkan, bahwa ini sebuah bentuk penyebahan berhala dan kemerosotan budaya. Pihak berwenang akhirnya kalah dan memerintahkan untuk menyingkirkan patungnya. Ini dipindahkan ke sebuah tempat yang tidak bisa dilihat khalayak umum. Penyingkiran patung ini telah menujukkan bahwa, sayangnya, pemerintah kami sudah jelas berbaik hati kepada kelompok-kelompok yang mempunyai pandangan fundamental, sangat irasional, sangat menentang ide-ide sekularisme atau kesetaraan  atau bahkan keadilan bagi semua dan pemerintah lebih menyukai mereka dibandingkan kekuatan-kekuatan progresif. Saya pikir, sejarah telah menunjukkan, ini sungguh bermain dengan api. Semakin banyak diberikan semakin banyak mereka mau. Kelompok-kelompok sejenis ini tidak gampang ditenangkan atau dipuaskan. Sara Hossein harus pergi untuk janji berikutnya. Walaupun sistem hukum Bangladesh menghadapi tekanan yang semakin tinggi, ia bertekad untuk tetap gigih dalam pekerjaannya atas nama kesetaraan dan hak asasi manusia. Kami pergi ke selatan negara ini. Bangladesh besarnya setengah dari Jerman, tetapi populasinya yang berjumlah 160 juta orang adalah dua kali lipat lebih besar. Aladin Nagar Aladin Nagar sebenarnya sebuah desa biasa, jika tidak ada patroli berkala yang dijalankan oleh petugas polisi bersenjata. Polisi ini harus melindungi sekitar 250 orang Hindu yang tinggal di desa berpopulasi 2000 orang Muslim ini. Kami memastikan keamanan sepanjang waktu. Jika terjadi insiden tak terduga, kami langsung mengambil tindakan. Biasaya orang Hindu dan Muslim dan orang-orang dari komunitas lainnya hidup seperti saudara di Bangladesh. Pada Februari 2013, kedamaian ini rusak. Massa yang marah berkumpul sebelum azan sholat Jum'at di alun-alun desa. Mereka bergerak menuju gubuk-gubuk dimana keluarga-keluarga Hindu setempat tinggal. Rony Banik juga seorang warga Hindu. Ia sedang istirahat makan siang ketika kekerasannya pecah. Kami mendengar suara palu. Seorang teman datang berlari dan menyuruh kami pergi. Orang-orang sedang datang ke arah sini untuk menyerang kami. Saya kabur dengan adik saya dan beberapa teman. Ketika kami kembali, kami melihat kuilnya terbakar. Rumah saya dirusak. Mereka menggunakan bubuk mesiu untuk membakar habis kuil kami. Rony Banik membantu membangun kembali kuilnya. Tetapi ketakutan atas terjadinya kekerasan lagi butuh waktu lama untuk pudar. Serangan oleh para Islamis radikal atas keluarga-keluarga Hindu di desa Aladin Nagar bukanlah kejadian satu-satunya. Di awal 2013, gelombang kekerasan menyapu seluruh penjuru negara ini. Target utamanya adalah kaum agama-agama minoritas dan para pemikir bebas. Pada saat itu sebuah pengadilan khusus di Dhaka sudah mulai mengeluarkan putusan hukuman mati bagi beberapa pimpinan partai Islam utama. Mereka dihukum karena kekejaman yang dilakukan di masa perang kemerdekaan tahun 1971. Para Islamis garis keras marah karena putusan ini, yang segara ditunjukkan dalam bentuk protes dan kekerasan. Bekas dari serangan tersebut masih terlihat di rumah Rony Banik. Untuk beberapa waktu, ia berpikir untuk melarikan diri ke negara tetangga India. Jika kami pergi ke India, kami harus hidup sebagai pengungsi. Disini, kami independen. Ini adalah negara kami. Kami berhak hidup disini. Kami tiba di Chittagong. Dengan lebih dari 4 juta penduduk, ini adalah kota kedua terbesar di Bangladesh. Ini juga merupakan kota dengan salah satu pelabuhan terbesar di Asia Selatan, yang sangat penting bagi ekonomi negara ini yang berorientasi ekspor. Bagian selatan negara ini lebih tradisional dan tidak begitu kosmopolit dibandingkan wilayah metropolitan Dhaka. Kami sendiri terkejut karena diperbolehkan untuk syuting di Madrasah Hathazari. Biasanya ini tertutup untuk syuting dan perempuan biasanya tidak diperbolehkan masuk. Madrasah Hathazari adalah salah satu yang paling berpengaruh di negara ini. Madrasah Hathazari dianggap sebagai sebuah pusat Islam aliran garis keras tertentu. Sekolah yang mempunyai 12.000 murid ini sudah berulangkali berada dibawah pengamatan polisi. Maulana Anis Adani, yang ayahnya merupakan kepala madrasah ini, bersikeras bahwa Hathazari bukanlah tempat tumbuhnya terorisme Islamis. Setiap orang Muslim perlu pendidikan Islam. Pendidikan Islam bukan berarti mengajarkan untuk menyiksa atau membunuh orang lain. Islam mengajarkan perdamaian. Lulusan dari madrasah ini akan ikut serta dalam kegiatan sosial, sehingga masalah-masalah di masyarakat akan hilang. Mereka akan menghilangkan ketidaksusilaan dan korupsi di masyarakat kami.  Para ustad mengatakan bahwa hanya Al-Qur'an yang bisa menjadi landasan negara ini. Ayat-ayat sucinya memberikan jawaban semua pertanyaan duniawi. Kami bertanya kepadanya apakah iPhone juga bisa ditemukan di Al-Qur'an. Iya, tentu saja mereka digambarkan di Al-Qur'an. Para peneliti bisa menemukan semua penemuan ini di Al-Qur'an. Contohnya, peluru kendali yang diciptakan di zaman sekarang. Dan bom atom. Hal-hal ini semua sudah diramalkan Nabi 1400 tahun yang lalu. Hanya beberapa minggu setelah wawancara ini, kami mendengar bahwa para guru di Madrasah Hathazari menyita dan membakar ratusan telepon genggam karena ada musik dan video tarian yang disimpan didalamnya. Pimpinan madrasah ini percaya bahwa perempuan tidak mempunyai peranan dalam kehidupan publik. Mufti Sarwar dengan bangga mengatakan, bahwa mereka mempunyai kelas istimewanya sendiri. Kami telah melakukan banyak hal untuk pendidikan perempuan di Bangladesh. Kami mau memberi inspirasi bagi wanita untuk menyokong perkembangan negara kami, untuk melakukan kerajinan tangan, mengurus anak-anak, mengurus rumah tangga, patuh terhadap suaminya dan sopan terhadap tetangga. Kami meneruskan perjalanan ke Cox's Bazar, sebuah kota di pesisir tenggara Bangladesh. Ini dekat dengan kamp-kamp pengungsi dimana orang Muslim Rohingya yang melarikan diri dari negara Buddha Myanmar tinggal. Di salah satu kampnya, kami bertemu dengan Monira dan putranya yang masih kecil. Sebatang kayu bambu melukai dahinya ketika melarikan diri. Monira yang berusia 18 tahun sedang hamil dan jadwal melahirkannya sudah dekat. Ia adalah salah satu dari setidaknya 700.000 orang Rohingya yang proses kembalinya ke Myanmar sedang dirundingkan. Tetapi sulit dibayangkan bahwa orang-orang yang tinggal di kamp yang penuh ini akan kembali suatu hari nanti. Cox's Bazaar Kamp Pengungsi Balukhali Bangladesh memberikan kami tempat berlindung. Bangladesh memberikan kami makanan. Kami tidak harus takut atas hidup kami dan kami aman. Kami akan tinggal disini. Kami lebih memilih makan tanah daripada balik ke Myanmar. Tidak ada listrik. Air bersih terlalu sedikit dan hampir tidak ada fasilitas sanitasi. Bahaya wabah penyakit selalu ada. Kondisi di kamp-kamp pengungsi ini sedih sekali. Tetapi orang-orangnya takut dipaksa kembali ke Myanmar. Disini, setidaknya, para Rohingya ini berada diantara orang Muslim. Hidup kami ada di tangan Allah. Kami bergantung kepada-Nya. Saya tidak punya mimpi untuk anak-anak saya. Saya mungkin meninggal ketika melahirkan anak saya, atau saya bisa selamat. Ini ada di tangan Allah. Para Islamis sudah berulang kali menyerukan jihad, sebuah perang suci melawan Myanmar. Kami diberitahu, bahwa gubuk-gubuk pertama yang didirikan di kamp pengungsi adalah masjid. Uangnya kebanyakan datang dari Arab Saudi dan dari sekolah-sekolah Al-Qur'an di Chittagong dan Dhaka. Kami ingin tahu bagaimana negara miskin seperti Bangladesh menangani kedatangan begitu banyak pengungsi. Desa Dighirbil, yang terletak di seberang kamp-kamp pengungsi, juga punya masjid baru, yang juga dibangun dengan dana bantuan dari Arab Saudi. Pada awalnya penduduk disini bersimpati dengan para pengungsi Rohingya. Tetapi sekarang mereka menjadi waspada. Mereka datang kesini karena mereka menderita di negaranya. Tetapi lebih baik kalau mereka pulang kembali. Mereka mendapatkan semua bantuannya. Kami tidak dapat apa-apa. Masalahnya adalah bahwa hidup kami telah menjadi lebih susah. Karena para pengungsi, ongkos hidup dan transport menjadi berlipat ganda. Mereka sebaiknya pergi. Ini adalah situasi yang siap rusuh. Ketika kami meninggalkan kamp pengungsinya, terlihat jelas bahwa Bangladesh berjuang untuk mengatasi situasi yang dihadapinya dan bahwa krisis pengungsi ini masih jauh dari selesai. Hanya beberapa kilometer dari sana, tetapi di dunia yang sama sekali berbeda dari penderitaan di kamp pengungsi: pantai terpanjang di dunia. inilah salah satu daya tarik industri pariwisata Bangladesh yang masih muda. Dalam perjalanan kami, kami terus melihat poster-poster yang memampang foto pemimpin Partai Liga Awami yang memerintah. Sheikh Hasina, perdana menteri Bangladesh, adalah putri dari presiden pertama negara ini. Partai-partai politik utama di Bangladesh seperti layaknya dinasti. Kami juga melihat beberapa poster dari Khaleda Zia, pemimpin dari partai oposisi terbesar di negara ini, Partai Nasionalis Bangladesh atau BNP. Suami Zia adalah seorang jendral yang dulunya terkenal. Kembali di Dhaka, kami bertemu dengan sekertaris jendral dari BNP. Mirza Alamgir sudah beberapa kali dipenjara, seperti juga pemimpin partainya. Ketika BNP masih berkuasa, mereka juga kejam terhadap oposisinya. Kami diberitahu bahwa orang-orang yang menentang partai yang berkuasa sering menghilang tanpa jejak. Tak satu pun dari dua partai politik besar yang bersaing untuk kekuasaan di Bangladesh tampaknya bersedia membuat pengakuan. Mereka selalu menyalahkan kami untuk semuanya. Untuk semuanya. Jika seekor sapi mati, mereka bilang BNP bertanggung jawab atas ini. Jadi inilah pola pikir mereka. Inilah masalahnya di negara ini. Di negara atau masyarakat demokrasi lainnya, kamu punya dialog antara partai pemerintah dan oposisi. Jika kami menghancurkan sistem demokrasi di Bangladesh, ada keprihatinan yang besar, bahwa kaum ekstrimis akan bangkit. Dhaka Rakyat biasa di Bangladesh punya kekhawatiran lain. Pagi berikutnya, kami pergi ke salah satu kampung kumuh di Dhaka untuk bertemu Arifa. Ia tinggal dengan ibunya yang sakit dan tiga adiknya di satu kamar kecil. Bagi banyak orang miskin di Bangladesh, ini adalah kehidupan normal. Arifa dulu berharap menjadi guru. Tetapi ia justru dipaksa bekerja pada usia 14 tahun. Saya mau pergi bersekolah, tetapi keluarga saya miskin. Ayah saya sudah meninggal waktu muda dan saya punya adik-adik yang harus pergi sekolah. Itu sulit sekali, jadi saya harus bekerja. Kadang saya sedih kalau melihat anak-anak pergi sekolah. Tetapi saya bisa apa? Saya harus menolong keluarga saya dan ini artinya saya harus bekerja. Kami menemani Arifa ke shift berikutnya. Ia salah satu dari jutaan pekerja tekstil di sebuah industri yang menyokong pertumbuhan ekonomi Bangladesh. Industri tekstil sekarang merupakan 80% dari ekspor negara ini. Arifa kerja sampai 12 jam sehari, 6 hari per minggu, menghasilkan kurang dari 70 euro per bulannya. Jika ia jatuh sakit, maka keluarganya tidak punya cukup uang untuk bertahan. Saya tidak banyak mengerti tentang itu, tetapi saya percaya, masalah utama di Bangladesh adalah politik. Partai-partai politik besar menyalahkan satu sama lain untuk segalanya. Dan kami, orang biasa, menderita sebagai akibatnya. Mereka saling bertengkar, mereka mengorganisir demonstrasi besar-besaran, memprovokasi kekerasan dan kami terjebak di tengah-tengah. Tetapi mereka punya kekuasaan dan melakukan apa yang mereka mau. Perjalanan kami hampir berakhir. Kami kembali ke kawasan Universitas Dhaka. Di Lapangan Shahbag, kami bertemu dua musisi muda. Sadin dan Wrivu sering datang kesini. Lapangan ini mempunyai pesona tersendiri bagi mereka. Selama puluhan tahun, semua aksi demontrasi dan gerakan besar di Bangladesh dimulai disini. Safin dan Wrivu baru saja mulai kuliah. Ketika mereka datang ke Lapangan Shahbag ini mereka bermimpi masa depan yang lebih baik, dan bukan hanya untuk mereka sendiri. Bagi saya Lapangan Shahbag adalah tempat penuh harapan karena ada banyak pemikir bebas yang kuliah di universitas dan mereka dan mereka bersatu disini. Mereka...  Kami semua bersatu disini untuk melakukan sesuatu hal baru. Orang-orang harus bersatu lagi, dan... jika ada sebuah revolusi lagi, kami akan bernyanyi bersama-sama, kami akan menyerukan slogan bahwa kami ingin kebebasan kami. Memang ada kebebasan tetapi kami mau lebih. Pada malam terakhir kami di Bangladesh, Safin dan Wrivu mengundang kami untuk menonton band mereka Chitropot latihan. Bagi kami, ini menandakan akhir dari perjalanan kami melintasi negara yang terbelah.  Bagi orang-orang biasa disini sudah jelas, mereka tidak puas dengan elit politik negara ini.  Bangladesh sepertinya berada pada titik kritis. Bahaya bahwa kaum Islamis dapat merebut keuntungan tampaknya sangat nyata. Pada akhirnya, generasi muda Bangladesh lah yang akan menentukan masa depan negaranya. Kaum muda di sekolah-sekolah ilmu Al-Qur'an dan mereka yang mendambakan kebebasan yang lebih. Kami takut. Kami sangat takut. Dan menyedihkan sekali bahwa berbagai hal terjadi di Bangladesh. Tetapi Anda tahu? Harapan adalah sesuatu yang memiliki bulu. Dan harapan tidak pernah mati.

You Might Also Like

0 comments

Like us on Facebook

Flickr Images