Amnesty: 13 Ribu Orang Digantung Rezim Assad di Penjara Saydnaya Sejak 2011

June 23, 2019


Sebanyak 13,000 orang digantung dalam lima tahun terakhir di sebuah penjara Syria terkenal dekat Damsyik, kata lembaga Amnesty International. Lembaga ini menuding pemerintahan rejim Assad telah melakukan "dasar pemusnahan".

Dalam laporannya yang bertajuk "Human Slaughterhouse: Mass hanging and extermination at Saydnaya prison," pada Selasa kemarin (7/2/2017) Amnesty mengeluarkan laporannya berdasarkan wawancara dengan 84 saksi, termasuk penjaga, tahanan, dan hakim.

Didapati bahawa sekurang-kurangnya seminggu sekali antara tahun 2011 hingga 2015, kumpulan-kumpulan hingga 50 orang dibawa keluar dari sel penjara untuk diseksa secara sewenang-wenangnya, dipukul, kemudian digantung di tengah malam dan penuh kerahsiaan.

"Sepanjang proses ini, para tahanan matanya tetap ditutup. Mereka tidak tahu bila atau bagaimana mereka akan mati sampai jerat tali tiang gantungan ditempatkan di sekitar leher mereka. "

Sebahagian besar korban diyakini adalah warga awam yang menentang kerajaan Presiden Bashar al-Assad, Al Jazeera melaporkan.

"Petugas menggantung para tahanan selama 10 hingga 15 minit," kata bekas hakim yang menyaksikan hukuman tersebut.

"Untuk anak-anak, yang berat badan mereka ringan sehingga tidak membuat mereka mati tercekik, petuga akan menarik badan mereka ke bawah hingga leher mereka patah," kata Amensty dalam laporannya.

Makin ramai wanita Gaza yang bekerja apa sahaja untuk mencari nafkah. Selain menjadi pemandu, ada wanita Gaza mencari nafkah dengan menjadi nelayan. Ini semua dilakukan untuk bertahan hidup.



Seorang nelayan wanita, Madleen Kullab (22 tahun) mengatakan, setiap kamu berlayar mencari ikan, maka kamu tak yakin sama ada boleh pulang ke rumah semula atau tidak.



"Situasi ketika ini begitu sukar, apabila kita mencapai 15 batu, maka kami akan ditembak oleh Israel, kami terpaksa melakukannya walaupun risikonya tinggi demi mencari nafkah."



Kullab menjadi nelayan hampir satu dekad ketika ayahnya menderita penyakit mielitis, radang sumsum tulang belakang dan akhirnya jadi difabel. Ia menggantikan kedudukan ayahnya sebagai pencari nafkah.



Kullab dan dua adik laki-lakinya keluar untuk mencari ikan pada pukul 3 hingga 5 pagi. Mereka kadang membaling jaring pada saat matahari terbenam. Mereka biasanya mencari ikan sardin.



"Kamu cari ikan apa sahaja yang boleh dicari," kata Kullab, lapor Aljazirah, Selasa, (8/3/2017).



Tak banyak ikan yang boleh dicari di daerah terlarang. Kadang hanya mendapat sedikit ikan, bahkan kadang tak mendapat ikan sama sekali. Untuk mendapat ikan yang berkualiti harus mencari ikan sehingga 10 batu dari bibir pantai.



Banyak ikan sardin jatuh di tanah saat para nelayan memasukkan ikan sardin tangkapan mereka dari jaring ke peti ikan. Pada masa itu pelabuhan Gaza dipenuhi dengan kapal-kapal yang bersandar di bawah langit mendung.



Ekonomi yang memburuk di Gaza telah memukul industri perikanan. Nelayan yang semula 10 ribu orang pada tahun 2000 turun menjadi 4.000, tahun lalu.



Selama ini nelayan di Gaza hidup berdasarkan pinjaman lunak, termasuk Kullab. Mereka tak turun ke laut pada musim sejuk, sebab pada musim sejuk cuaca sering buruk dan ombak boleh terlalu tinggi untuk kapalnya yang sederhana.



Setiap hari Kullab hanya mendapat wang sebanyak 10 shekels (2,60 dolar AS) dengan mencari ikan.



Menjadi nelayan, terang Kullab, semakin berbahaya. Ia mencari jalan keluar dengan masuk kuliah. Ia berharap boleh mendapat pekerjaan sebagai setiausaha.



"Saya ditembak setiap kali mencari ikan di laut. Lebih baik mencari pekerjaan selain mencari ikan. "



Kullab mengaku pernah menyaksikan rakannya sesama nelayan Mohammad Mansour Baker yang ditembak Israel hingga meninggal dunia ketika mencari ikan dengan saudaranya.




"Terdapat lebih dari 10 kapal. Kami hanya 3 batu dari laut dan kapal-kapal Israel mula menembak kami tanpa alasan. Mohammad ditembak dari perut menembus punggungnya dan meninggal dunia di kapal. "Demikian dikutip dari Republika.

You Might Also Like

0 comments

Like us on Facebook

Flickr Images